20120508

FILSAFAT IKHWAN AL-SAFA`

Ikhwan al-Shafa’ (Persaudaraan Suci) adalah nama kelompok pemikir Islam yang bergerak secara rahasia dari sekte Syi’ah Ismailiyah yang lahir pada abad ke 4 H (10 M) di Basrah. Kelompok ini juga menamakan dirinya Khulan al-Wafa’, Ahl al-Adl, dan Abna’ al-Hamd. Salah satu ajaran Ikwan al-Shafa adalah paham taqiyah (menyembunyikan keyakinan), paham taqiyah ini disebabkan basis kegiatannya berada ditengah-tengah masyarakat sunni yang nota bene adalah lawan ideologi dari Ikhwan al-Shafa’ (Syi’ah), kerahasiaan kelompok ini juga disebabkan oleh dukungan mereka terhadap faham mu’tazilah yang telah dihapuskan dari madzhab Negara oleh khalifah Abbasiyah al-Mutawakkil (sekte sunni). maka kaum rasionalis dicopot dari jabatan pemerintahan kemudian diusir dari Baghdad.

Berikutnya penguasa melarang mengajarkan kesusateraan, ilmu, dan filsafat. Kondisi yang tidak kondusif ini berlanjut pada khalifah-khalifah sesudahnya. Berdasarkan permasalahan itulah kelompok ini selain bergerak di bidang keilmuan juga bertendensi politik.

Pada masa khilafah Abbasiyah dikuasai Dinasti Salajikah yang berpaham sunni, gerakan kelompok ini dinilai mengganggu stabilitas keamanan dan ajaran-ajarannya dipandang sesat. Maka pada tahun 1150 Khalifah Al-Muntazid menginstruksikan agar seluruh karya filsafat Ikhwán dibakar. Hal ini disebabkan karena perbedaan ideologi antara penguasa Dinasti Salajikah yang Sunni dengan kelompok Ikhwan al-Shafa yang Syiah.

Ikhwan al-Shafa’ merupakan gerakan yang mempertahankan semangat berfilsafat khususnya dan pemikiran rasional umumnya. Tokoh terkemuka kelompok ini adalah Ahmad ibnu Abd Allah, Abu Sulaiman Muhammad Ibnu Nashr al-Busti yang terkenal dengan sebutan al-Muqaddasi, Zaid ibn Rifa’ah selaku ketua dan Abu al-Hasan Ali ibnu Harun al-Zanjany.

Lahirnya Ikhwan al-shafa’ adalah ingin menyelamatkan masyarakat dan mendekatkannya pada jalan kebahagiaan yang diridhai Allah. Menurut mereka, syariat telah dinodai bermacam-macam kejahiliyahan dan dilumuri keanekaragaman kesesatan. Satu-satunya jalan untuk membersihkannya adalah filsafat.

Dalam kelompok ini ada empat tingkatan anggota sebagai berikut:

Ikhwan al-Abrar al-Ruhama, kelompok yang berusia 15-30 tahun yang memiliki jiwa yang suci dan pikiran yang kuat. Mereka berstatus murid, karenanya dituntut tunduk dan patuh secara sempurna kepada guru.

Ikhwan al-Akhyar wa al-Fudhala, yakni kelompok yang berusia 30-40 tahun. Pada tingkat ini mereka sudah mampu memelihara persaudaraan, pemurah, kasih sayang, dan siap berkorban demi persaudaraan (tingkat guru-guru).

Ikhwan al-Fudhala al-Kiram, yakni kelompok yang berusia 40-50 tahun. Dalam kenegaraan kedudukan mereka sama dengan sultan atau hakim. Mereka sudah mengetahui aturan ketuhanan sebagai tingkatan para nabi.

Al-Kamal, yakni kelompok yang berusia 50 tahun ke atas. Mereka disebut dengan tingkat al-Muqarrabin min Allah karena mereka sudah mampu memahami hakikat sesuatu sehingga mereka sudah berada diatas alam realitas, syariat dan wahyu sebagaimana malaikat al-muqarrabun.







Pertemuan-pertemuan yang diselenggarakan Ikhwan al-Shafa menghasilkan 52 risalah yang mereka namakan Rasa’il Ikhwan al-Shafa. Rasa’il ini diklasifikasikan menjadi empat bidang:

14 risalah tentang matematika, yang mencakup geometri, astronomi, musik, geografi, seni, modal dan logika

17 risalah tentang fisika dan ilmu alam, yang mencakup genealogi, mineralogi, botani, hidup dan matinya alam, senang sakitnya alam, keterbatasan manusia, dan kemampuan kesadaran.

10 risalah tentang ilmu jiwa, mencakup metafisika Phytagoreanisme dan kebangkitan alam

11 risalah tentang ilmu-ilmu ketuhanan, meliputi kepercayaan dan keyakinan, hubungan alam dengan Allah, akidah mereka, kenabian dan keadaannya, tindakan rohani, bentuk konstitusi politik, kekuasaan Allah, magic dan azimat.


FILSAFAT



1.Talfiq

Ikhwan al-Shafa berusaha memadukan agama-agama yang ada dengan filsafat. Mereka menyatakan bahwa apabila dipertemukan antara filsafat Yunani dan syari’at Arab, maka akan menghasilkan formulasi-formulasi yang lebih sempurna. Ikhwan al-Shafa menempatkan filsafat menjadi landasan agama yang dipadukan dengan ilmu.

Usaha rekonsiliasi antar agama dengan filsafat sebenarnya telah dilakukan Al-Farabi dan Ibnu Sina. Akan tetapi, kedua filosof ini hanya mengupas keselarasan kebenaran filsafat dan agama. Sementara itu Ikhwan al-Shafa melepaskan sekat-sekat perbedaan agama. Karena itu rekonsiliasi yang mereka maksud tidak hanya antara filsafat dengan agama Islam, namun juga antara filsafat dengan seluruh agama, ajaran, dan keyakinan, seperti Kristen, Majuzi, Yahudi dan lain-lainnya.

Menurut mereka, tujuan semua agama tersebut sama-sama untuk mendekatkan diri kepada tuhan. Yang mereka maksud adalah Islam sebagai ajaran utama dan ajaran-ajaran lain hanya sekedar pelengakap untuk memudahkan pemahaman Islam itu sendiri. ini akan mereka jadikan sebagai pegangan dalam negara baru yang mereka impikan.

2.Ketuhanan

Dalam masalah ketuhanan, Ikhwan al-Shafa melandasi pemikirannya pada angka-angka atau bilangan. Menurut mereka, pengetahuan tentang angka membawa pada pengakuan tentang keesaan Allah karena apabila angka satu rusak, maka rusaklah semua angka.

Selanjutnya mereka katakan, angka satu sebelum angka dua dan dalam angka dua terkandung pengertian kesatuan. Dengan istilah lain, angka satu adalah angka yang pertama dan angka itu terlebih dahulu dari angka dua lainnya. Oleh karena itu, keutamaan terletak pada yang dahulu, yakni angka satu. Sementara angka dua dan lainnya terjadinya kemudian. Oleh karena itu, terbuktilah bahwa Yang Maha Esa (Allah) lebih dahulu dari yang lainnya seperti dahulunya angka satu dari angka lain.

Hal ini terlihat jelas pengaruh Neo-Pythagoreanisme yang dipadukan dengan filsafat keesan Plotinus pada Ikhwan al-Shafa. Kesan tauhid dalam filsafat mereka itulah yang menarik Ikhwan al-Shafa mengambilnya sebagai argumen tentang keesan Allah.

Tentang ilmu Allah mereka katakan bahwa seluruh pengetahuan berada dalam ilmu Allah sebagaimana beradanya seluruh bilangan dalam bilangan satu. Berbeda dengan ilmu para pemikir, ilmu Allah dari zat-Nya sebagaimana bilangan yang satu, meliputi seluruh bilangan. Demikian pula ilmu Allah terhadap segala yang ada.


3.Bilangan

Menurut mereka, angka-angka itu mempunyai arti spekulatif yang dapat dijadikan dalil wujud sesuatu. Oleh sebab itu, ilmu hitung merupakan ilmu yang mulia dibanding ilmu empirik karena tergolong ilmu ketuhanan.

Angka satu merupakan dasar segala wujud dan permulaan yang absolut. Huruf hijaiyah yang 28 merupakan hasil perkalian empat dan tujuh. Angka tujuh mengandung nilai kesucian, sedangkan angka empat menempati posisi penting dalam segala hal yang tercermin pada ciptaan Allah terhadap segala sesuatu dialam ini, seperti empat penjuru angin, empat musim, empat unsur dan lainnya. Alasan untuk ini adalah bahwa Tuhan menginginkan empat macam entitas ilmiah tersebut dapat memantulkan atau mencontohkan entitas-entitas adikodrati, yang sama-sama merupakan satu kelompok dari empat entitas: Tuhan, Akal Universal, Jiwa Universal dan Materi Prima.




4.Jiwa Manusia

Jiwa manusia bersumber dari jiwa universal. Jiwa manusia banyak dipengaruhi materi yang mengitarinya. Agar jiwa tidak kecewa dalam perkembangannya, maka jiwa dibantu oleh akal yang merupakan daya bagi jiwa untuk berkembang.

Pengetahuan diperoleh melalui proses berpikir. Tanggapan dari panca indra yang menyalurkan ke otak bagian depan yang memiliki daya imajinasi. Kemudian meningkat ke daya berpikir yang terdapat pada otak bagian tengah. Pada tingkat ini manusia bisa membedakan antara benar dan salah, antara baik dan buruk. Setelah itu, disalurkan ke daya ingatan yang terdapat pada otak bagian belakang. Pada tingkat ini seseorang telah sanggup menyimpan hal-hal anstrak yang diterima oleh daya berpikir. Tingkatan terakhir adalah daya berbicara, yaitu kemampuan mengungkapkan pikiran dan ingatan itu melalui tutur kata pada pendengar.

Manusia selain mempunyai indera zahir, juga memiliki indra batin yang berfungsi mengolah hal-hal yang ditangkap oleh indra zahir sehingga melahirkan konsep-konsep.

KESIMPULAN
Dari pembahasan di atas, kita telah dapat membuktikan keluasan dan kedalaman pemikiran Filsafat Islam. Sebagaimana filsafat lain, filsafat Islam mempunyai kedudukan yang amat penting dalam dunia pemikiran filsafat. Bahkan orang Barat tidak akan mengenal filsafat tanpa kontribusi Islam, terutama pemikiran rasionalistik Ibnu Rusyd (Barat menyebutnya Averroes) yang menjadi pendorong timbulnya renaisans di Eropa yang kemudian membuat kemajuan Barat sekarang.

Seperti hal nya Ikhwan al-Shafa yang menjadikan Matematika / bilangan sebagai cara pandang untuk memahami tentang ke-Esa-an Allah, dan juga usaha kelompok ini untuk memadukan antara beberapa ajaran dan keyakinan dengan filsafat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar